Ah, hal ini terjadi juga pada saya.
dulu. dulu sekali, ketika saya masih sangat idealis saya pernah memiliki satu mimpi. untuk masuk ke universitas dan jurusan idaman. mimpi yang harus diwujudkan dalam jangka waktu tertentu karena batas usia.
saya gagal. dan entah bagaimana saya terdampar di Jogja, dijurusan yang tidak saya ketahui pula juntrungannya (dulu, satu waktu). dan akhirnya saya jatuh cinta dengan semua yang ada disini, jadi karena itu saya tidak pernah menyesal berada di posisi yang saya tempati saat ini.
saya merasa ini merupakan berita bahagia meski terasa sedikit sesak tersisa didada. sepupu saya masuk dijurusan dan universitas yang saya inginkan dulu.
rasanya senang, karena sepupu saya mendapat tempat terbaik meski masih ada satu perasaan saya yang mengganjal. itu berarti saya tidak sepintar dia?
yah setidaknya nanti ketika kami pulang ke kampung halaman dan berbagi cerita, saya akan menuntaskan rasa penasaran saya pada mimpi lama saya :)
seharian ini saya bertemu dengan banyak orang. beberapa diantaranya orang yang bahkan sudah cukup lama tidak saya temui.
kali ini, sosok itu duduk dengan jumawa disatu kursi. membaca buku tetralogi yang masih terbaca jilid pertamanya oleh saya. ketika saya datang, sudah hampir habis kopi di gelas kecilnya, menyisakan ampas hitam pekat. saya tahu, dia menyukai kopi seperti itu.
bahkan sebelum dia memberi kode pada saya untuk menghadapnya, saya tahu dialah yang duduk di kursi itu. saya, entah mengapa tak pernah mau untuk terlihat terlalu antusias ketika bertemu dengannya. entah itu untuk menekan diri saya sendiri dan mematikan harapan saya terhadapnya atau memang itu murni sifat saya, jual mahal. saya begitu tak inginnya untuk meninggalkan kesan murahan padanya. saya jadi tak tahu, saya harus bersikap seperti apa pada dia. selalu. sama setiap kali kami bertemu.
setidaknya dia bilang saya lumayan kalau saya dandan. tapi maaf, saya berdandan setiap hari dengan urutan yang sama tak kurang satu langkah pun. mungkin hanya dia yang baru menyadarinya.
asap rokok yang dia tekuni sejak saya datang terasa menjadi satu aspek yang tak pernah terlepas. dia akan selalu memiliki aksesori itu kemanapun dia pergi. itu gayanya.
dan anehnya, saya begitu terpikat ketika asap rokok itu keluar dari bibirnya, mengaburkan wajahnya sejenak. dan kemudian, senyum lembutnya kembali terlihat dalam pandangan saya. pandangan matanya tertuju pada saya, selembut senyumannya. sehingga saya mengartikan bahwa pandangan matanya itu untuk saya.
begitu memikatnya, sehingga saya tak berani lama-lama memandang dia. saya berusaha keras menutup wajah saya sejak kami berhadapan.
ah, seandainya dia tahu bahwa dalam hati saya memuja dia beserta aksesori pelengkapnya yang tak akan pernah lepas sampai kapanpun.
dia terlihat lucu ketika mengalihkan perbincangan sehingga dia tak pernah harus menyelesaikan apa yang memang tak ingin dia selesaikan.
hanya jika dia serius, sudah tentu saya tak punya daya untuk menolak dia.
tapi dia tak pernah serius pada saya. tak menganggap saya sebagai orang yang patut menyandingnya.
tahukah dia, kalau saya begitu terlena dengan kebersamaan yang terbangun diantara kami sehingga untuk melepasnya saya harus menyadarkan diri saya sendiri untuk segera beranjak dari tempat itu dan berharap besok akan terjadi hal yang sama dengan hari ini?
pesan yang dia kirimkan malam ini membuat saya melambung tinggi. Demi Tuhan, bolehkah saya mengharap?
katakan saja saya memang menarik kembali kalimat saya beberapa waktu yang lalu.
kini saya bertanya-tanya, benarkah ada kesempatan untuk saya bersama dia?
kemarin lusa, pulang dari menjelajah toko buku. saya dan seorang teman saya pulang dari toko buku menggunakan jasa bapak supir taksi.
untung, kali ini bapak supir taksinya orang yang interaktif. jadi kami banyak ngobrol dengan beliau.
memang, ilmu dan pengetahuan bisa didapat dimana saja. saya tak pernah berusaha membatasi dari sumber mana saya harus mengetahui fakta-fakta yang sebenarnya ada dalam masyarakat.
sore itu, masih gerimis, kami dengan nyamannya berbincang dengan bapak supir taksi. tiba-tiba obrolan kami jatuh pada kepadatan jalan raya, behaviour pengendara dan sebagai macamnya.
dengan tegas si bapak supir itu mengatakan kalau memang mental orang-orang disini yang kurang bisa menghargai dan toleransi terhadap yang lainnya bukan karena hal lainnya. maunya menang sendiri, tidak peduli hak pejalan kaki dan melajukan kendaraan seolah jalan itu milik bapaknya sendiri.
tak butuh sekolah tinggi-tinggi sebenarnya untuk membenahi moral. saya beruntung, masih bisa belajar dari orang ‘jalanan’.
semoga nanti saya bertemu lagi dengan ‘guru’ freestyle untuk ilmu yang lain lagi.
libur 3 minggu ini hampir tidak terasa sama sekali. menghabiskan waktu bersama keluarga memang waktu yang sangat menyenangkan. sayang, ini harus segera berakhir. senin besok saya harus kembali ke Jogjakarta (Maaf, saya memang tidak suka menggunakan Y untuk Jogja :P)
banyak yang terjadi selama saya dirumah. membantu sepupu-sepupu saya yang sebentar lagi akan memasuki dunia kuliah, menunggu nilai keluar dengan penuh rasa takut, dan yang terakhir adalah perpisahan dengan rumah yang sudah didiami oleh 3 (yah, atau 2,5 karena generasi kami belum begitu lama kan :D) generasi keluarga saya.
rumah itu sudah ikut menyaksikan berbagai macam drama dan cerita yang terjadi dalam keluarga saya. rumah yang menyimpan begitu banyak memori tentangku, kini harus menyerah. pada perubahan zaman dan berbagai tekanan lainnya.
tempat dimana kakekku menunjukkan rasa sayang yang tak terhingga pada kami, cucu-cucunya, putra-putrinya, keluarganya. tempat dimana semua kelahiran kami diabadikan, tempat yang penuh emosi, tempat dimana kebanggaan dan semua nilai-nilai tertanam pada diri kami.
saya akan mengenangnya. kami semua akan mengenangnya. bagaimana rumah itu menyatukan kami semua.
setelah liburan ini, saya mungkin tidak akan mendapatkan rumah itu lagi dalam penglihatan saya. mungkin akan menjadi toko baru yang akan meramaikan jalan besar itu. tapi saya akan merindukannya .
Ini salah saya memang, karena mengharap akan bertemu dia lagi.
i just don’t aware what if it’s granted too soon
dan itu terjadi semalam. be careful what you wish for!
percakapan semalam, adalah percakapan pertama dengan dia.
my heart still beating so fast, and i like his existence next to me.
tapi saya sudah berani berbicara, memandangnya, dan tersenyum padanya. tidak seperti sebelumnya.
dan harapan saya sudah hilang seluruhnya. ringan rasanya. meski masih agak sedikit menyayangkan untuk melepasnya. he’s the finest i’ve ever met :)
Kemarin tanggal 17 Januari 2012, saya dan seorang teman saya membuat agenda penuh untuk hari itu.
Perjalanan kami mulai jam satu siang. pertama kami mengembalikan buku dulu ke perpustakaan pusat, kemudian kami makan pempek ditempat langganan yang relatif dekat dengan kampus sementara kami. setelah itu baru kami berdua menyerbu ke toko buku yang ada didaerah Condong Catur, Yogyakarta.
Didalam bus kota menuju toko buku, hujan menderu disertai angin yang cukup untuk membuat saya limbung. hujan pun membuat kami basah ketika masuk toko buku.
Awalnya kami menyelami tumpukan buku dengan nyaman dan tenang. khas sekali suasana toko buku. tapi kemudian keadaan berubah menjadi sedikit chaotic ketika hujan semakin deras dan air menyerbu masuk toko buku dengan cepat. semakin lama posisi kami makin kebelakang. belum juga pakaian saya kering dari kehujanan.tapi kemudian saya pasrah dan berhenti menghindari air. tak sampai mata kaki genangan air yang kini menyelimuti lantai ruangan. namun cukup untuk membasahi sepatu saya.
Semua pegawai berlarian berusaha menahan air untuk merangsek terus kebelakang dengan kardus-kardus. ada juga yang berlarian menyelamatkan buku-buku yang tertumpuk di lantai.
Sementara saya, menikmati genangan air itu. saya tahu, mungkin saja air itu kotor karena ada beberapa ‘barang’ yang ikut hanyut dan meramaikan genangan air itu. saya tetap merasa senang.
Mungkin ada yang mengatakan saya aneh ataupun gila, karena disaat seperti itu bukan waktu untuk bermain-main. but i found it very exciting and fun. so, what can i say? i just let my self enjoy the ‘disaster’. sementara yang lain mencari tempat untuk menghindarkan mereka dari serbuan air.
Beberapa detik kemudian, disusul dengan padamnya lampu di toko tersebut.
Entah mengapa, saya semakin kegirangan. bayangkan, di toko buku, tempat miliaran imajinasi dan ilmu pengetahuan berkumpul. it’s every kids dream, to stay at the shop when it close. yah, meski itu toko belum tutup, tapi nampak seperti toko yang sedang tutup :)
Bayangkan! bukankah sangat menyenangkan? :D
Semakin imajinasi saya bermain waktu itu. bagaimana kalau ada tangan yang meraih kaki saya dari bawah rak buku?
Bagaimana kalau ternyata toko buku itu memiliki pintu untuk ke dunia lain?
Ah, rasanya menyenangkan.
dan sayangnya kesenangan itu harus diputus oleh suara mbak penjaga toko yang berniat menutup toko saat itu juga.
Namun kesenangan ternyata belum berakhir. ketika perjalanan pulang, teman saya membawa saya melangkahkan kaki ke jalan kecil. Jalan yang dia yakini akan membawa kita kembali ke Jalan Kaliurang, dengan melewati gang Warung Steak.
Sayangnya kami tersesat.
Kami hampir belok di semua gang, sampai akhirnya kami memilih untuk kembali ke jalan utama ringroad. Sebelum sampai ke jalan utama, kami mencoba satu gang lagi untuk yang terakhir kalinya. dan untungnya jalan itu memang tembus ke jalan Kaliurang.
Hari yang menyenangkan dan Melelahkan.
PS: Untuk teman saya, in case dia membaca ini, lain kali jangan menyesatkan ya :D
memang gampang untuk bilang, maafkan saja dalam kasus underestimate terhadap orang lain.
tapi rasanya tidak semudah itu kalau anda sendiri yang menjadi targetnya.
saya pernah merasakannya.
bagaimana mereka begitu merendahkan saya karena memang pada waktu itu saya bukanlah seseorang yang pintar dikelas.
saya juga masuk ke jurusan IPS, yang bagi banyak orang IPS merupakan strata lebih rendah dari IPA.
maaf kalau ternyata sampai saat ini saya masih susah untuk melupakan bagaimana nada bicara dan mimik muka yang teman-teman pasang ketika berhadapan dengan saya atau beberapa teman yang mereka anggap setara intelegensinya dengan saya.
bagaimana kata-kata mereka yang sangat merendahkan membuat saya merasa takut “sia-siakah sekolah saya selama ini?”
saya hanya mohon satu hal, jangan salahkan saya jika saat ini saya bertujuan (selain berusaha untuk saya dan keluarga saya) untuk membuktikan bahwa saya tidak bodoh. saya mampu melampaui kalian suatu saat nanti. tunggu saja.
saya hampir lupa bagaimana rasanya tersenyum dan tertawa karena hal yang begitu remeh
saya hampir lupa bagaimana rasanya flirting tengah malam melalui chat box
saya hampir lupa bagaimana rasanya senang karena hal-hal kecil
saya hampir lupa bagaimana rasanya menyukai seseorang
saya hampir lupa bagaimana rasanya
menyenangkan. saya takut kalau ini tidak bisa berlanjut. kami, masing-masing akan tetap berada ditempat biasa. jauh tak terjangkau masing-masing dari kami. kami masih akan tetap berupa alumni dari tempat yang sama.
hanya saja rasanya lucu kalau saya mengharap sekarang. dan saya tidak menyesal. sekalipun saya punya kesempatan itu dari lama.